PLN Hadirkan SuperSUN di Pulau Samalona, Terangi 20 Rumah

  • Bagikan

Makassar, KOMPASNEWS – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan keadilan energi di wilayah 3T. Salah satunya menghadirkan inovasi SuperSUN di Pulau Samalona.

SuperSUN sendiri, merupakan inovasi energi bersih karya anak bangsa yang mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mikro dengan Battery Energy Storage System (BESS), yang menghadirkan listrik di wilayah-wilayah yang selama ini belum terjangkau jaringan konvensional.

Berkat inovasi PLN, sebanyak 20 rumah tangga di Pulau Samalona kini telah teraliri listrik SuperSUN.

Pulau Samalona sendiri, adalah salah satu pulau kecil yang terletak di lepas pantai barat Kota Makassar yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat kota atau sekitar 30 menit perjalanan laut menggunakan perahu dari dermaga atau pelabuhan kecil di pesisir Kota Makassar.

Dengan luas sekitar 2,3 hektare, Pulau Samalona dikelilingi pasir putih halus, air laut jernih bergradasi biru toska, dan terumbu karang yang masih terjaga, menjadikannya destinasi wisata bahari populer berkat keindahan alamnya yang menawan dan menjadikannya salah satu spot snorkeling dan diving terbaik di Kota Makassar, dengan aneka biota laut seperti ikan hias, karang warna-warni, dan penyu laut yang kerap terlihat.

Warga Pulau Samalona, Kamaruddin, mengungkapkan, dengan adanya SuperSUN ini, Pulau Samalona kini menyala 24 jam tanpa henti, menggantikan pasokan sebelumnya yang terbatas dan bergantung pada genset berbahan bakar minyak. Warga pun kini dapat menghemat biaya operasional hingga 88 persen untuk usaha wisatanya, yaitu homestay.

Sebelum hadirnya listrik PLN, warga yang kebanyakan berprofesi di bidang pariwisata mengandalkan genset dan menghabiskan sekitar 180 liter bahan bakar minyak (BBM) per bulan, itu pun hanya digunakan pada malam hari. Dengan harga BBM sekitar Rp15 ribu per liter, warga mengeluarkan biaya sekitar Rp2,7 juta per bulan.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Setelah hadirnya listrik PLN dari inovasi SuperSUN, rata-rata kami hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp300 ribu per bulan atau menghemat hingga 88 persen. Selain itu, kami juga bisa menikmati listrik 24 jam untuk kegiatan lainnya seperti mengaji dan anak-anak belajar di malam hari,” kata Kamaruddin, Jumat (24/10/2025).

Kamaruddin, juga mengungkapkan, inovasi PLN ini sangat bermanfaat dan berdampak positif bagi kenyamanan wisatawan.

“Jika genset menyala, suara menjadi sangat bising dan menimbulkan polusi di malam hari. Dengan hasil penghematan biaya operasional, saya juga berencana mengembangkan dan merenovasi homestay,” kata Kamaruddin.

Tercatat sejak listrik PLN beroperasi 24 jam pada Agustus 2025, kata Kamaruddin, terjadi peningkatan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Samalona. Sebelumnya hanya rata-rata 800 wisatawan per bulan, kini meningkat menjadi sekitar 1.000 wisatawan per bulan.

General Manager PT PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengungkapkan, PLN berkomitmen untuk terus mewujudkan keadilan energi di seluruh Indonesia, termasuk wilayah 3T.

“SuperSUN adalah wujud keseriusan PLN dalam mewujudkan listrik berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Kami tidak hanya membawa cahaya, tapi juga harapan. SuperSUN ini dirancang agar masyarakat kepulauan bisa mandiri energi dengan memanfaatkan potensi alam sekitar, sekaligus mendukung pariwisata hijau yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan,” kata Edyansyah.

Edyansyah, juga mengungkapan bahwa listrik sangat vital dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun dihadapkan dengan tantangan yang cukup berat, tim PLN berhasil menyeberangi laut dari Kota Makassar ke Pulau Samalona dengan mengangkut material berbobot hingga 100 kilogram (kg) per unit. Tak jarang, petugas PLN juga dihadapkan pada cuaca yang kurang bersahabat dan ombak besar. Namun semua itu tidak menyurutkan semangat PLN dalam melistriki Pulau Samalona.

“Dengan adanya listrik, warga di sini dapat memaksimalkan potensi wisatanya. Nelayan juga dapat menggunakan kulkas untuk menyimpan ikan. Hasil tangkapan lebih awet, pengunjung meningkat, dan otomatis perekonomian menjadi lebih baik. Kini kehidupan dan ekonomi pulau wisata dan UMKM seperti homestay, warung makan, hingga penyewaan alat snorkeling, kini bisa berjalan tanpa batas waktu,” kata Edyansyah.

Sekedar diketahui, hingga September 2025, kata Edyansyah, rasio elektrifikasi di Sulawesi Selatan telah mencapai 99,99 persen. Bahkan kini sebanyak 1.486 unit SuperSUN telah terpasang di 80 desa di Sulawesi Selatan yang membawa perubahan nyata bagi masyarakat, mulai dari tumbuhnya perekonomian lokal hingga hadirnya harapan baru.

“Hal ini menjadi bukti komitmen PLN terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Edyansyah.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, turut mengapresiasi sumbangsih PLN dalam melistriki hingga ke pelosok, salah satunya di Pulau Samalona.

“Walaupun dihadapkan dengan tantangan, melistriki daerah terpencil adalah mimpi lama yang akhirnya berhasil kita wujudkan. Alhamdulillah, dalam momentum HUT Sulsel ke-365 ini, wilayah yang selama ini listriknya terbatas kini telah diterangi berkat kerja keras banyak pihak dan kehadiran teknologi ramah lingkungan, yaitu SuperSUN dari PLN,” kata Sudirman.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, juga mengucapkan terimakasih atas inisiasi PLN melalui inovasi SuperSUN dalam melistriki kepulauan.

“Kami optimis program ini bisa menyentuh pulau-pulau lainnya, karena untuk memberikan kesejahteraan dibutuhkan listrik. Alhamdulillah, Pulau Samalona menjadi percontohan. Dengan hadirnya listrik PLN tentu bisa memberikan manfaat dan berkah bagi masyarakat. Selain itu, dengan adanya listrik masyarakat dapat melakukan kegiatan ekonomi untuk menambah penghasilan,” kata Munafri. (wia/skr)

  • Bagikan