Gaza, KOMPASNEWS – Hujan deras yang melanda Jalur Gaza sejak Jumat hingga Sabtu pagi membanjiri ribuan tenda pengungsi dan menyebabkan pakaian, tempat tidur serta harta benda yang tersisa basah kuyup. Kondisi itu semakin memperparah penderitaan yang dialami sekitar 1,5 juta warga Palestina di Gaza yang terpaksa mengungsi sejak genosida Israel pada 7 Oktober 2023.
Serangan militer Israel telah menghancurkan 92 persen bangunan tempat tinggal di Gaza dan memaksa sebagian besar warga untuk mengungsi ke tenda-tenda yang tidak memberikan perlindungan selama musim panas maupun musim dingin.
Menurut perkiraan kantor media pemerintah Gaza seperti dilansir TRT World, 93 persen dari seluruh tenda pengungsian tidak lagi layak untuk berlindung — 125.000 dari total 135.000 — karena faktor cuaca dan kerusakan akibat pemboman Israel.
Ada juga warga Gaza yang tetap tinggal di rumah mereka yang rusak, meski berisiko roboh akibat banjir dan hujan.
Para pejabat di Gaza telah menerima “ratusan permohonan bantuan,” ujar Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, kepada para wartawan, “tetapi sumber dayanya tidak ada.”
“Seluruh pusat penampungan mengalami kenaikan ketinggian air hingga lebih dari 10. Kasur basah kuyup, selimut basah kuyup, dan tidak ada pilihan tersisa — karena semua pilihan telah dihancurkan oleh Israel,” ujarnya.
Badai memang biasa terjadi di Gaza saat ini, tetapi dengan ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi dari tempat penampungan permanen, curah hujan yang normal pun dapat membanjiri penduduk dan memperburuk kondisi yang sudah memprihatinkan.
Warga Palestina yang mengungsi di Kota Gaza mengatakan kepada CNN bahwa tenda-tenda yang mereka tempati sudah usang, beberapa di antaranya roboh terendam hujan deras.
“Kami dan anak-anak kecil kami kebanjiran hujan,” kata Raed Al-Alayan. “Tenda kami kebanjiran. Tidak ada atap yang melindungi kami dari hujan.”
Seorang perempuan memandu CNN berkeliling dan masuk ke tenda-tenda keluarganya yang basah kuyup, tempat ia menampung 20 anak, termasuk bayi yang baru lahir. Ia mulai meratap dan menjerit sedih saat menggambarkan keadaan yang dialaminya.
“Ke mana kami harus pergi?” tanyanya beberapa kali. “Putra saya yang tewas membangun tenda-tenda ini untuk kami. Apa yang harus saya lakukan sekarang?”
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric seperti dilansir WAFA dan dikutip Antara menyampaikan keprihatinannya bahwa “ribuan keluarga pengungsi kini benar-benar terpapar kondisi cuaca ekstrem, meningkatkan kekhawatiran terkait kesehatan dan perlindungan”.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan bahwa mitra yang bertugas menyediakan dukungan tempat tinggal telah mengerahkan tim tanggap cepat.
Selama beberapa pekan pihaknya berupaya mengurangi dampak hujan yang diperkirakan akan mengguyur seluruh wilayah Gaza.
OCHA melaporkan bahwa pada Kamis lalu saja, sekitar 1.000 tenda telah didistribusikan ke keluarga di Deir al-Balah dan Khan Yunis.
Sejak Ahad hingga Rabu lalu, para mitra juga telah menyediakan sekitar 7.000 selimut untuk 1.800 lebih keluarga, sekitar 15.000 terpal untuk 3.700 lebih keluarga serta pakaian musim dingin untuk lebih dari 500 keluarga.
Desak Israel Buka Akses Bantuan
KendaTi demikian, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Sabtu menyerukan israel membuka akses agar bahan-bahan perlindungan ke Jalur Gaza yang dilanda perang dapat masuk.
“Musim dingin telah tiba di Gaza,” kata UNRWA di media sosial AS, X seperti dilansir Anadolu.
“Hujan musim dingin di Gaza membuat kondisi semakin memprihatinkan. Keluarga-keluarga berlindung di mana pun mereka bisa, termasuk di tenda-tenda darurat.”
Badan PBB tersebut menegaskan kembali bahwa mereka memiliki persediaan perlindungan yang sangat dibutuhkan di Gaza “untuk membantu orang-orang melewati musim dingin.”
Israel terus memblokir masuknya material perlindungan seperti tenda dan rumah mobil, mengingkari kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober.
Israel telah menewaskan lebih dari 69.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, di Gaza sejak Oktober 2023 dan menghancurkan daerah kantong itu hingga rata dengan tanah. (skr)











