Vale Ajak Siswa SD di Sorowako Belajar Penyelamatan Lingkungan Sejak Dini

  • Bagikan
PT Vale mengajak pelajar SD di Sorowako menerapkan pembelajaran lingkungan sejak dini.

Sorowako, KOMPASNEWS – Sebagai upaya mendukung sektor pendidikan berkelanjutan yang inklusif, PT Vale mengajak pelajar SD di Sorowako menerapkan pembelajaran, sekaligus mendorong sekolah-sekolah di area Luwu Timur untuk menjadikan Perseroan sebagai pilihan untuk belajar mengenai lingkungan.

Salah satunya SDN 279 Rante Angin yang melakukan kunjungan di Taman Kehati Sawerigading Wallacea. Dalam kegiatan ini, sebanyak 42 siswa kelas 4-6 SD dan 10 orang guru belajar bagaimana menerapkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Direktur Eksternal Relations PT Vale, Endra Kusuma, mengungkapkan, kegiatan ini sejalan dengan cita-cita perusahaan membangun Taman Kehati.

“Kami ingin ada sarana belajar untuk publik terkait pengelolaan lingkungan. Di sini, masyarakat bisa melihat bagaimana komitmen perusahaan melakukan pertambangan berkelanjutnya,” kata Endra, melalui siaran pers, Selasa (7/10/2025).

Endra, berharap, kehadiran para siswa ke area pasca tambang tentunya menegaskan wujud komitmen perusahaan dalam menerapkan transparansi dan mendekatkan siswa agar mencintai lingkungan.

Sekedar diketahui, selama 57 tahun di Sorowako, PT Vale berhasil menjaga kebersihan Danau Matano sesuai dengan baku mutu lingkungan. Perusahaan juga melakukan pemantauan air limpasan tambangan yang dapat dimonitori selama 24 jam bekerjasama dengan KLH dan BRIN.

“Seeing is Believing, melihat tentunya akan percaya. Hadirnya para siswa di Taman Kehati diharapkan semakin menambah wawasan mereka jika perusahaan tambang dapat mengembangkan keberlanjutan lingkungan dengan baik,” katanya.

Kepala SDN 279 Rante Angin, Sungi, mengungkapkan bahwa sepanjang perjalanan dari sebrang Danau Towuti hingga ke pusat pembibitan, Ia bersama para guru takjub dengan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh PT Vale.

“Rasanya seperti tidak berada di area tambang. Olehnya, kami ingin anak-anak belajar bagaimana perusahaan mengelola lingkungan. Hal ini yang akan dibawa kembali ke sekolah dan desa untuk dikembangkan. Apalagi anak-anak perlu belajar cara mencintai lingkungan sejak dini,” kata Sungi.

Tidak hanya takjub, kata Sungi, rasa penasaran siswa-siswi juga dijawab dengan praktik langsung cara memilah dan membuang sampah.

Khusus pengelolaan tanaman, para siswa juga diajak melihat dan mencoba stek pohon. Secara bergantian mereka mempraktekkan cara memangkas daun dan batang sebelum menancapkan bibit yang telah distek ke dalam pot tanam.

“Dari praktik ini, siswa diajar untuk memperbanyak tanaman tidak melulu dimulai dari penanaman biji, tapi juga bisa melalui stek batang. Metode stek ini juga bisa digunakan untuk menambah jumlah tanaman di sekolah,” kata Sungi.

Sementara, Supervisor Nursery and Rehabilitation PT Vale, Abkar, mengungkapkan, selain belajar perihal lingkungan, para siswa juga diajarkan nama-nama flora dan fauna.

“Di Vale, tanaman endemik ataupun lokal diambil oleh Perusahaan dari hutan sebelum penambangan dilakukan untuk dirawat di dalam pusat pembibitan ini. Kita selalu menerapkan reklamasi, yaitu penanaman kembali setelah masa penambangan. Contohnya, pusat pembibitan ini dulunya area tambang namun sekarang sudah kembali hijau,” kata Abkar. (wia/skr)

  • Bagikan