Takalar, KOMPASNEWS – Persoalan distribusi air irigasi kembali mencuat di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Sejumlah petani mengeluhkan tidak meratanya aliran air ke lahan persawahan mereka, bahkan sebagian wilayah dilaporkan mulai mengalami kekeringan akibat pasokan air yang tak kunjung tiba.
Keluhan datang dari warga di jalur Pattiro menuju Bontolebang Lebang I hingga Lingkungan Campagaya, Pangkajene, Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Mereka menyebut, selain irigasi yang belum berfungsi optimal, sumber air alternatif seperti sungai kecil (kaloro) kini juga telah mengering.
“Belumpi ada air. Sungai kecil juga sudah habis. Kalau air diarahkan ke sungai, minimal masih bisa kami pompa. Kasihan petani,” ungkap seorang warga.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Mangarabombang, khususnya di Desa Lengkese dan Desa Bontomanai.
Petani di wilayah tersebut mengaku kesulitan mendapatkan air, padahal tanaman mereka sebagian besar baru memasuki fase awal pertumbuhan yang sangat membutuhkan pasokan air stabil.
Meski keluhan terus bermunculan, warga menilai belum ada langkah nyata yang dirasakan di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Takalar, Parawansyah, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat resmi kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang untuk meminta pembukaan pintu air.
“Ini sudah disurati balai, semoga cepat direspons,” ujarnya singkat, Selasa (21/4/2026).
Surat bernomor 003/CWS/PP.Takalar/IV/2026 tersebut diajukan melalui Ketua Tim Kerja (Katimker) Kabupaten Takalar, dengan fokus permintaan layanan pengaliran di Kecamatan Mangarabombang.
Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan lebih lanjut apakah cakupan permintaan tersebut berlaku untuk seluruh wilayah terdampak di Kabupaten Takalar.
Di sisi lain, pihak internal BBWS Pompengan Jeneberang mengungkapkan bahwa pintu intake bendungan dan Bendung Pamukkulu saat ini sebenarnya telah beroperasi untuk pengaliran air.
Namun, wilayah seperti Desa Lengkese dan Desa Bontomanai disebut sebagai area layanan baru dari saluran sekunder yang baru dibangun, sehingga pengalirannya belum sepenuhnya teralokasi.
BBWS juga merencanakan pertemuan dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan pemangku wilayah setempat untuk membahas kebutuhan distribusi air secara lebih rinci, dengan tetap mengacu pada jadwal pengaliran yang telah ditetapkan.
“Pada prinsipnya seluruh daerah layanan akan dimaksimalkan. Kami juga akan melakukan penanganan sementara untuk menambah volume pengaliran, terutama di titik-titik yang mengalami hambatan (bottle neck),” ungkap sumber internal tersebut.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pengambilan air secara liar di jaringan irigasi, karena dapat mengganggu distribusi ke wilayah lain.
Meski sejumlah langkah telah direncanakan, para petani berharap realisasi di lapangan dapat segera dilakukan. Pasalnya, keterlambatan distribusi air tidak hanya menghambat masa tanam, tetapi juga berpotensi menyebabkan gagal panen jika kondisi ini terus berlanjut. (Diman)












