TAKALAR, KOMPASNEWS – Asap tipis mengepul dari dapur kecil di sebuah gubuk reyot. Pagi itu, Daeng Nurung menanak beras dengan hati-hati, tidak banyak, hanya secukupnya. Baginya, setiap butir beras adalah jaminan hari ini.
Di rumah sederhana itu, ia hidup bersama dua anaknya dan seorang ayah yang telah renta. Penglihatan sang ayah kian rabun, langkahnya bergantung pada tongkat. Dalam kondisi seperti itu, Daeng Nurung menjadi tulang punggung keluarga.
“Kalau tidak kerja, tidak ada yang bisa dimakan,” ucapnya pelan. “Kadang kami makan seadanya saja.”
Hari-harinya diisi kerja serabutan – membantu di kebun, ikut menanam atau memanen di sawah orang. Upahnya tak menentu.
Ada hari ketika ia pulang membawa bahan makanan, ada pula hari ketika ia hanya membawa lelah.
Dalam situasi itulah, bantuan pangan hadir sebagai penopang.
Beberapa bulan lalu, Daeng Nurung terdaftar sebagai penerima Bantuan Pangan (PBP). Ia menerima dua karung beras masing-masing 10 kilogram serta minyak goreng.
“Alhamdulillah, sangat membantu,” katanya.
“Setidaknya kami tidak terlalu khawatir untuk makan beberapa waktu ke depan.” Ia menambahkan dengan suara lirih, “Itu seperti ada yang peduli. Terima kasih kepada pemerintah dan BULOG.”
Kisah Daeng Nurung adalah potret kecil dari persoalan besar: ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
Di Kabupaten Takalar, Alokasi Oktober dan November tahun 2025, sebanyak 32.419 Penerima Bantuan Pangan menerima distribusi 648.380 kilogram beras dan 129.676 liter minyak goreng yang tersebar di 12 kecamatan. Angka ini mencerminkan bagaimana negara hadir menjaga dapur rakyat.
Namun, menjaga pangan tidak berhenti pada distribusi bantuan. Di balik bantuan yang sampai ke rumah warga, ada sistem panjang yang bekerja – mulai dari sawah petani hingga gudang penyimpanan.
Laporan posisi stok fisik harian per 24 April 2026 menunjukkan, di Gudang BULOG Palleko, Kabupaten Takalar, ketersediaan pangan dalam kondisi terjaga.
Untuk komoditas beras, tercatat Beras Medium HGL (hasil giling) 2025 sebanyak 778.444 kilogram dan Beras Medium TGL (hasil giling) 2026 sebanyak 814.802 kilogram.
Sementara itu, untuk komoditas jagung, stok Jagung Pakan Ternak Pipil Kering (JPK) 2025 mencapai 121.000 kilogram dan tahun 2026 sebanyak 144.000 kilogram.
Angka-angka ini bukan sekadar catatan administrasi. Ia menjadi indikator penting bahwa rantai pasok pangan tetap berjalan.
Untuk memastikan hal tersebut, aparat turut turun langsung ke lapangan.
Kodim 1426/Takalar melalui Koramil 1426-01/Polongbangkeng Utara melakukan peninjauan ke Gudang BULOG di Kelurahan Malewang, Kecamatan Polongbangkeng Utara. Tujuannya satu: memastikan stok pangan aman.
Serma Aminullah yang bertugas di lapangan mengungkapkan, “Stok beras BULOG di wilayah Takalar sampai hari ini aman. Tercatat sekitar 1.593 ton tersedia di gudang.” Urainya.
Angka 1.593 ton menjadi krusial. Di tengah dinamika harga dan tekanan kebutuhan masyarakat, ketersediaan stok adalah penentu stabilitas.
Perum BULOG sebagai BUMN pangan memegang peran strategis: mengelola persediaan, mengatur distribusi, dan menjaga Harga Pembelian Pemerintah (HPP) agar petani tetap mendapat keuntungan, sementara masyarakat tetap mampu membeli.
Kehadiran TNI dalam pengawasan menjadi bagian dari upaya memastikan sistem itu berjalan tanpa hambatan.
Pengecekan ini juga berkaitan dengan Program Percepatan Penyerapan Gabah/Beras periode Maret–April 2026. Program ini bertujuan menyerap hasil panen petani secara optimal agar stok tetap terjaga sekaligus menjaga harga di tingkat petani.
Kapten Infanteri Ashar, S.Pd., selaku Danramil, menegaskan pentingnya hal tersebut.
“Stok aman berarti harga stabil. Harga stabil berarti dapur rakyat tenang. Di situ tugas kami: mengawal, dari sawah petani sampai gudang BULOG,” ujarnya.
Jika di tingkat nasional kebijakan pangan dirancang dalam skala besar, maka di daerah seperti Takalar, kebijakan itu hadir dalam bentuk yang nyata: ketersediaan beras di gudang dan sepiring nasi di meja makan masyarakat.
Namun, tantangan tetap ada.
Di lapangan, masih ditemukan warga yang belum terjangkau bantuan. Validitas data dan distribusi menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dibenahi.
Di sisi lain, ketergantungan terhadap bantuan juga perlu diantisipasi.
Ketahanan pangan sejatinya tidak hanya bertumpu pada bantuan.
Masyarakat perlu didorong untuk membangun kemandirian pangan. Diversifikasi konsumsi menjadi salah satu langkah penting. Jagung, singkong, umbi-umbian, hingga hasil pekarangan dapat menjadi alternatif sumber pangan yang tidak kalah bernilai.
Selain itu, pengelolaan konsumsi yang bijak, pemanfaatan lahan kecil, serta mengurangi pemborosan makanan menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Dalam ekosistem ini, BULOG tetap menjadi simpul penting – menghubungkan petani, stok nasional, dan kebutuhan masyarakat.
Bagi Daeng Nurung, semua sistem besar itu mungkin tidak terlihat. Yang ia rasakan sederhana: hari ini keluarganya bisa makan.
“Saya hanya ingin anak-anak tidak kelaparan,” katanya. “Itu saja sudah cukup.”
Namun dari kesederhanaan itu, makna besar ketahanan pangan menjadi nyata.
Di balik ratusan ribu kilogram beras yang disalurkan dan ribuan ton stok yang dijaga, ada kehidupan yang bergantung padanya.
Memasuki usia ke-59, BULOG tidak hanya dituntut menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga memastikan distribusi yang adil dan mendorong kemandirian masyarakat.
Dari gubuk sederhana hingga gudang penyimpanan, satu pesan yang sama mengalir: pangan adalah hak dasar.
Dan menjaganya – adalah tentang memastikan masa depan tetap ada. (Man)












