Makassar, KOMPASNEWS – Nilai tukar rupiah terus melemah. Ekonom Sulsel, Syamsul Rijal mengingatkan, kondisi ini berpotensi berkepanjangan jika gebrakan ekonomi tetap stagnan.
“Kinerja kabinet ekonomi memang belum menunjukkan solusi konkret. Itulah sebabnya rupiah labil. Dan ini bisa berkepanjangan hingga akhir tahun,” terang Syamsul, Kamis (25/9/2025).
Menurut Syamsul, ekonomi RI sangat bergantung pada kondisi politik keamanan dalam negeri. Melemahnya rupiah dalam sepekan adalah imbas dari kondisi dalam negeri yang masih pasang surut.
“Pertama ada pergantian kabinet yang mendadak. Kedua, terjadi kerusuhan pada akhir Agustus lalu,” papar Syamsul.
Semua itu, memberi resistensi kuat pada ketangguhan rupiah. Belum lagi kinerja pemerintah di sektor ekonomi masih lemah.
“Kinerja konomi kita masih sumir. Masih sebatas retorika. Belum konkret,” ketuanya.
Namun Syamsul yakin, rupiah akan kembali menguat setelah APBN disahkan nanti.
Dalam perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah rontok ke level Rp16.699 per dolar Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Bloomberg, dolar AS berada pada level Rp16.699 atau menguat 11,50 poin (0,07%), setelah sebelumnya dibuka pada level Rp16.678/US$.
Nilai tukar dolar AS hari ini diperdagangkan di rentang Rp16.678 sampai Rp16.699. Sementara itu, pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang lainnya terlihat bervariasi.
Pengamat Pasar Keuangan Ariston Tjendra mengatakan pelemahan rupiah seiring dengan pelemahan nilai tukar Asia lainnya terhadap dolar AS. Hal itu dikarenakan adanya sinyal pemangkasan suku bunga The Fed tidak akan berlanjut.
“Pernyataan Jerome Powell bisa jadi penyebabnya, di mana pasca pemangkasan suku bunga 25 bp, Powell tidak serta-merta membuka kemungkinan yang lebih besar untuk pemangkasan lanjutan. The Fed tetap mempertimbangkan risiko kenaikan inflasi bila pemangkasan terus dilakukan,” tuturnya.
Di sisi lain, penurunan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia belakangan ini akibat kebijakan pelonggaran likuiditas. Hal itu membuat aset rupiah tidak lebih menarik sehingga menjadi tekanan untuk nilai tukar rupiah.
“Namun demikian, komitmen BI untuk menjaga nilai tukar rupiah alias intervensi bisa menyebabkan pelemahan rupiah tertahan. Potensi pelemahan ke arah Rp 16.700 dengan support di kisaran Rp 16.600 hari ini,” bebernya. (skr)












